Happy, happy birthday! (1)

Keserakahan kalian tak ada habisnya membuat kami menderita. Pernahkah terpikir bagaimana perasaan kami saat ini. Sudah kami beri oksigen setiap hari, sudah kami serap semua polusi yang kalian hakimi, sudah kami jadikan hidup kalian lebih berarti. Namun apa daya, ketika kepentingan telah membiaskan segala bentuk kepedulian. Ya Tuhan tolonglah kami. Batang kami yang kokoh tidak bisa lagi menahan beringasnya gergaji besi. Kami tidak bisa lagi berdiri tegak. Apa yang harus kami lakukan??

Terkadang saya berpikir, masihkah ada secercak solusi dibalik permasalahan alam di bumi pertiwi. Semakin berkembangnya era industrialisasi dan teknologi, tidak berarti rasa kepedulian manusia akan alam ikut berkembang. Bahkan kepedulian tersebut telah mengalami pengikisan yang amat parah. Manusia seakan memikirkan kepentingan sendiri beserta keuntungan bisnis yang diupayakannya. Yang sangat mengkhawatrikan adalah, demi uang, alam yang telah memberi segalanya pun rela dibinasakan. Pohon, tanah, satwa, lautan, gunung, hingga hutan terus dieksplorasi secara masif tanpa memikirkan apa akibat yang akan terjadi.

Kini kerusakan yang dialami oleh alam semakin parah dan bukanlah omong kosong belaka. Anda minta bukti? Akan saya berikan!!

1. Keadaan Hutan yang semakin mengkhawatirkan

Customer Relationship Management

Yang pertama akan saya ulas mengenai permasalahan hutan sebagai penyangga kehidupan. Menurut data KLHK hutan di Indonesia sudah mengalami deforestasi yang cukup signifikan. Pada tahun 2015 seluas 1.09 juta hekater, 2016 seluas 0.63 juta hekater, dan 2017 seluas 0.48 juta hektare. Beruntung setiap tahunnya angka tersebut mengalami penurunan, namun tetap harus menjadi sebuah peringatan. Sementara itu lahan kritis pada tahun 2017 telah mencapai kurang lebih 30 juta hektare.

Perlu anda ketahui bahwa hutan memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan diantaranya paru-paru dunia, penyangga bencana, penyimpanan air, mencegah bertambahnya polusi udara, hingga sumber ekonomi. Itu berarti apabila manusia merusak hutan, maka ia sedang megundang sebuah bencana untuk dirinya sendiri.

Eksplorasi hutan biasanya dilakukan oleh manusia untuk keperluan pembukaan lahan, industri, pembangunan infrastruktur, industri pariwisata, dan sebagainya.

2. Terumbu karang yang tak lagi indah

Generasi Milenial (1)

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam bidang oceanografi merilis kondisi terumbu karang pada November 2018 lalu. Hasilnya bahwa terumbu karang dalam kategori jelek sebanyak 386 site (36.18%), kategori cukup sebanyak 366 site (34.3%), kategori baik sebanyak  245 site (22.96%) dan kategori sangat baik sebesar 70 site (6.56%). Data tersebut diambil berdasarkan pantauan yang dilakukan pada 1067 site di seluruh Indonesia.

Disini bisa dilihat bahwa kategori jelek dan cukup memiliki tren yang terus naik. Itu artinya terumbu karang pun telah mengalami penurunan kualitas dan peningkatan dalam segi kerusakan. Padahal salah satu penyangga ekosistem laut ini berperan penting sebagai tumpuan hidup serta rumah bagi beberapa jenis ikan dan biota laut lainnya.

Ada beberapa penyebab terumbu kurang kini mengalami kerusakan yang cukup signifikan seperti perubahan iklmi sehingga terumbu karang mengalami pemutihan, sedimentasi, pencemaran laut, pengambilan karang yang berlebih, hingga pemboman.

3. Sampah di air laut yang semakin menumpuk

sampah-plastik-di-laut.-foto-ilustrasiist

Beberapa tahun terakhir, kita disuguhkan dengan sebuah fenomena baru. Sampah tidak lagi menumpuk di pintu air maupun sisi-sisi sungai, melainkan hulu Samudera. Air laut, kini mulai tercemar oleh sampah dari sisa-sisa aktivitas manusia. Bahkan mayoritas sampah tersebut adalah plastik yang memiliki karakteristik tidak ramah lingkungan. Bukti paling konkret terjadi di Teluk Jakarta, dimana di wilayah Muara Angke, Jakarta Utara terdapat bagian dari lautan yang dipenuhi oleh sampah plastik. Faktor terbesar penyebab hal ini terjadi yakni kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan di sungai. Kemudian sampah tersebut hanyut hingga terbawa ke hilir dan lautan.

Ironisnya sampah tersebut juga menjadi penyebab utama matinya fauna dan biota laut. Bahkan dari beberapa ikan yang mati ditemukan setumpukkan plastik di dalam perutnya.

4. Kualitas oksigen yang semakin menurun

Kebetulan sepeda motor adalah moda transportasi andalan yang saya gunakan sehari-hari. Namun dibalik segala keefektifannya, saya memiliki musuh tersendiri dalam menggunakan moda transportasi ini, yakni asap kendaraan. Saya tidak mengerti bagaimana si pemilik mobil membiarkan kondisi mobilnya seperti itu. Namun disisi lain pemerintah yang memiliki kewenangan pun seakan membiarkan hal itu terjadi. Kemanakah peraturan mengenai emisi sebagai referensi untuk meakukan tindakan? Atau jangan-jangan aturan tersebut hanya sebuah regulasi formalitas untuk menghiasi buku kitab undang-undang perlalu lintasan.

Kata-kata tersebut terlontar berlandaskan sebuah kekhawatiran akan dampak polusi sisa gas buang kendaraan. Karena asap kendaraan tersebut merupakan salah satu faktor penyebab memburuknya kualitas udara yang kita hirup. Belum lagi asap pabrik, kebakaran hutan, dan yang lainnya. Pada bulan Juli 2018 lalu, sebuah situs airvisual.com pernah merilis dimana Jakarta dan Bali masuk dalam 5 besar kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia dengan skor masing-masing 172 US AQI dan 156 US AQI.

2019 adalah moment tepat, akan tetapi…..

Tahun 2019 ini merupakan tahun yang krusial bagi bangsa Indonesia karena tengah menghadapi pesta demokrasi terbesar. Rakyat Indonesia akan memilih Calon Presiden dan Wakil Presiden serta wakil mereka di badan legislatif. Tentu sebuah harapan baru bagi kita semua untuk Indonesia yang lebih baik. Apakah calon petahana dengan segala kebijakan barunya di periode kedua, ataukah sang penantang dengan segala terobosan serta ide-ide pemikirannya yang akan menduduki tahta RI 1. Namun dibalik itu semua, alampun menyuarakan harapannya sendiri. Kewenangan Presiden bisa menjadi salah satu solusi bagi permasalahan alam yang terus menerus terjadi tanpa menemui solusi.

Belum lama ini debat Calon Presiden dihelat dan tema akan alam menjadi salah satu perbincangan. Baik kubu petahana dan penantang saling menyuarakan gagasan mereka mengenai apa saja solusi yang ditawarkan untuk Indonesia yang lebih baik…

Namun yang ironis bagi saya adalah, semua materi dan isi debat tersebut kini semakin menguap ditengah kampanye yang masih ramai di media sosial. Isu alam pun seperti bukan hal yang penting untuk disuarakan. Para netizen dan simpatisan hanya sibuk menyoroti aspek lain yang cenderung keluar dari konteks permasalahan alam itu sendiri. Bahkan bukan hanya itu, akar permasalahan rakyat lainnya pun seperti ikut tenggelam dan jarang diangkat sebagai isu utama perdebatan di tengah masyarakat. Opini seakan digiring hanya terhadap isu-isu politis, ekonomi, fenomena Hoax, SARA, dan bahkan hal-hal lain yang sama sekali tidak mendidik.

Memang satu dua hari setelah debat, media sosial masih ramai membahasnya. Sesudah itu, perdebatan pun kembali dipenuhi dengan isu-isu yang jauh dari konten debat itu sendiri, seperti mempermasalahkan kepemilikan tanah oleh capres nomor dua, soal teknologi Earpiece yang digunakan oleh calon petahana, dan lain sebagainya. Bahkan isu Unicorn jauh lebih menarik untuk dieksplor dibandingkan kebakaran hutan maupun ekspansi cagar alam yang terjadi di beberapa wilayah.

Disisi lain, ada beberapa isu yang banyak diperbincangkan dan menarik perhatian publik sepanjang pelaksanaan kampanye sejak September 2018 lalu.

SEO (1)

keenam isu diatas adalah yang paling banyak diperbincangkan di media sosial sejak September 2018. Source : republika.co.id

Sementara data yang dihimpun oleh iklan capres , isu ekonomi, keberagaman/SARA, HAM, hingga Hoax masih lebih mendominasi untuk diangkat di media sosial dibandingkan permasalahan lainnya.

Opera Snapshot_2019-02-25_175558_www.iklancapres.id

Bisa dilihat dari catatan tersebut, konten isu kampanye pemilu 2019 ini sudah jauh dari akar permasalahan rakyat. Sehingga solusi serta ide dari masing-masing calon akan masalah-masalah bangsa yang lebih krusial menjadi tidak tersampaikan. Masyarakat terus saja disuguhkan dengan berbagai konten isu yang menimbulkan berbgai spekulasi yang tidak ada habisnya. Bahkan kalau saya bilang kini rakyat mungkin lupa akan permasalahan sebenarnya yang mereka alami akibat penggiringan opini tadi.

Saya hanya khawatir, masyarakat memilih pemimpinnya hanya berkaca dari segala asumsi, bukan solusi yang ditawarkan. Apa salahnya bagi kawan-kawan simpatisan, untuk memberikan suguhan konten isu kampanye yang lebih memiliki relevansi akan akar masalah yang kini medekap kehidupan rakyat Indonesia. Supaya masyarakat bisa memilih pemimpin yang tepat sesuai dengan solusi yang ditawarkan.

Membutuhkan program yang “ramah lingkungan”

Kemudian dari kedua pasang calon sendiri, mayoritas program-program yang ditawarkan cenderung didominasi pada kebijakan politik, ekonomi, infrastruktur, dan hal-hal yang dianggap fundamental lainnya. Sayangnya program mengenai kebijakan yang bersangkutan dengan alam masih minimal. Entah memang mereka menganggap itu tidak krusial atau memang tidak tersampaikan dengan baik.

Disisi lain ada beberapa program unggulan dari kedua paslon untuk permasalahan lingkungan

The Art of (2)

The Art of (3)

Alam memiliki cara sendiri untuk menuntut hak dan keadilannya

Permasalahan alam bukanlah hal yang kecil dan sama sekali tidak bisa diremehkan. Karena seharusnya kita tidak lupa, alam memiliki caranya tersendiri untuk menuntut haknya. Alam adalah perantara Tuhan yang paling nyata untuk memperingatkan segala kerusakan yang telah diperbuat oleh manusia. Seharusnya kita belajar dari banyak sekali keserakahan yang dilakukan dan berakibat fatal.

Ujung-ujungnya manusia sendirilah yang menanggung akibatnya. Bencana tanah longsor, banjir bandang, fluktuasi tanah, air pasang, pemanasan global, kebakaran hutan, dan lain sebagainya. Lebih dari 3 ribu nyawa di tahun 2018 telah melayang, tapi seakan tak cukup menyadarkan bahwa apa yang telah kita lakukan sudah melampaui batas. Namun sebaliknya, manusia seakan abai akan berbagai bencana tersebut dan menganggapnya hanya sebagai suatu fenomena.

A job interview is a one-on-one interview consisting of a conversation between a job applicant and a representative of an employer which is conducted to assess whether the applicant should be hired. Interviews ar

keempat bencana alam diatas diakibatkan kerusakan alam karena ekspansi manusia yang telah melewati batas

Bencana alam merupakan salah satu interpretasi nyata abainya manusia terhadap alam. Kita terlalu asyik untuk terus mengganggu habitat dan keberadaan mereka. Sehingga keberlangsungan kehidupan di bumi ini menjadi tidak seimbang. Presiden terpilih harus bisa memberikan sentuhan hal positif terhadap upaya memperbaiki kondisi alam di negeri kita tercinta ini, baik melalui kebijakan strategis maupun peraturan serta wewenang yang dimilikinya. Karena alam menjadi salah satu parameter penting bagi keberlangsungan suatu negara dalam menyongsong masa depan.

Suarakan kembali akar permasalahan rakyat sebagai isu utama kampanye

Sudah saatnya bagi kita semua, anggota lapisan masyarakat untuk mulai menggalakkan kembali akar permasalahan rakyat seperti alam/lingkungan hidup, korupsi, hingga kepastian hukum menjadi isu yang pantas disuarakan. Memang isu-isu yang berkembang di masyarakat saat ini juga penting, namun konten perdebatan akan hal itu sudah melampaui batas dan menenggelamkan banyak sekali permasalahan yang lebih krusial.

Ibaratnya sekelompok masyarakat tengah sibuk menangkap sekelompok serigala yang mengancam, namun membiarkan sekelompok harimau tetap berkeliaran. Maka apabila diabaikan terus menerus, harimau-harimau itulah yang akan membunuh seluruh masyarakat itu. Sama halnya dengan apa yang terjadi pada kampanye kali ini, kita semua sibuk memperhatikan masalah ekonomi, SARA, kabar Hoax, hingga isu yang tidak mendidik.

Namun isu seperti korupsi, kerusakan alam, keadilan dan kepastian hukum tidak dijadikan sebagai isu penting untuk dibicarakan. Bukan tidak mungkin permasalahan-permasalahan itu tumbuh berkembang dalam diamnya dan siap membunuh kedaulatan negara kita yang telah kita perjuangkan. Mulailah berpikir kritis dan cerdas untuk setidaknya memperhatikan permasalahan yang jauh lebih penting. Jangan kita terus mengikuti arus kampanye saat ini yang cenderung mengadu asumsi daripada solusi.

Beberapa permasalahan alam yang membutuhkan perhatian

Ada beberapa persoalan krusial mengenai alam yang harus mendapatkan perhatian kita semua, tak terkecuali kedua pasang capres dan cawapres yang saat ini sedang berlaga. Persoalan tersebut yakni Meratus, lubang tambang, dan kabut asap. WALHI selaku pegiat lingkungan hidup mengungkapkan harapannya kepada setiap pasangan capres cawapres untuk setidaknya memperhatikan ketiga permasalahan itu dan berkomitmen untuk memperbaikinya.

Kemudian saya juga mengapresiasi perjuangan para pegiat lingkungan di wilayah Jawa Barat. Mereka mengkritisi SK Nomor 25 Kemen LHK yang menurunkan status cagar alam di Kamojang dan Gn. Papandayan yang kini berubah menjadi wisata alam. Hal itu menimbulkan kekhawatiran akan proteksi dari berbagai flora dan fauna yang terancam punah didalamnya menjadi tidak efektif. Sehingga keberadaan mereka menjadi terancam akibat kerusakan dari ekspansi manusia yang menyentuh habitatnya.

Isu-isu itulah yang seharusnya giat disuarakan di media sosial sebagai sarana sosialisasi yang tepat. Mungkin anda adalah salah satu orang yang tidak tahu akan berbagai permasalahan diatas karena terlalu sibuk dengan isu-isu lainnya. Mereka membutuhkan peran kita juga untuk menyuarakannya ke masyarakat luas dan juga menjadi salah satu perbincangan serta pertimbangan politis bagi kedua paslon. Sehingga misi untuk memperbaiki akar permasalahan rakyat menjadi sebuah kenyataan.

Setidaknya suara dari kita merupakan salah satu perwujudan sederhana terhadap kepedulian akan alam sebagai pemeran utama dalam menyangga kehidupan dan peradaban. Kita adalah bagian kecil dari alam, dan sampai kapanpun manusia akan membutuhkannya. Dan satu hal yang perlu diingat, karena kita bagian dari alam tersebut, apabila hak-hak mereka direnggut artinya tanpa disadari hak-hak kita pun telah terenggut.

Jadi ayolah suarakan hak kita itu disisa-sisa waktu kampanye pemilu 2019 ini. Mengadu visi misi dan penawaran solusi akan akar permasalahan rakyat jauh lebih penting daripada mengadu asumsi dari isu dan permasalahan yang tidak penting. Janganlah memancing alam untuk menuntut keadilannya sekali lagi. Karena seharusnya kita malu kepada mereka yang tidak pernah berlalu memberikan sarana kehidupan untuk menatap harapan dan masa depan yang baru.